assorted books on wooden table

Innovate. Educate. Inspire.

Welcome to PDTI USY, where we pioneer innovative educational solutions to empower the next generation. Join us in shaping a brighter future through knowledge and technology.
A lady signing a contract with a ballpoint pen.

Integritas - di Antara Pakta dan Fakta

Di negeri yang apa-apa butuh stempel dan map warna cokelat ini, ada satu frasa yang rasanya kok makin hari makin kehilangan "magis"-nya: Integritas.

Kalimat ini mulia sekali, asli. Di gedung-gedung pemerintahan atau kantor-kantor bergengsi, tulisan Integritas itu biasanya dipajang pakai huruf kapital warna emas. Gagah betul. Dibaca tiap apel pagi, diucapkan sambil dada ditegakkan, lalu ditutup dengan acara tanda tangan Pakta Integritas. Sah! Resmi!

Tapi ya itu tadi... Nanti kita lihat saja.

Lama-lama saya yang awam ini agak heran. Dulu saya membayangkan integritas itu ibarat matahari. Mau yang lewat itu pejabat eselon satu, tukang parkir, temen dekat, atau musuh bebuyutan, matahari ya tetep terbit dari timur dan bersinar seadanya. Nggak pakai milih-milih siapa yang mau disinari. Nggak ada istilah "Wah, ini temen sendiri, tak kasih sinar yang agak adem deh." Nggak ada.

Tapi prakteknya sekarang, integritas itu malah lebih mirip lampu emergency.

Ia cuma menyala pas butuh—misalnya pas lagi ada audit, ada pemeriksaan dari pusat, atau pas lagi diliput wartawan. Begitu acaranya selesai, instansinya aman, lampunya dimatikan lagi. Lha wong menguras baterai dan dianggap bikin repot, kok.

Akhirnya, Pakta Integritas yang ditandatangani dengan penuh khidmat itu bernasib sama kayak bunga plastik di ruang tamu. Kelihatan indah, nggak pernah layu, tapi ya... nggak ada nyawanya. Cuma pajangan biar ruangan kelihatan ada ijo-ijonya.

Di sinilah letak lelucon birokrasinya. Kita itu sering sibuk setengah mati ngurusin tinta, dokumen, dan stempel, tapi lupa sama isinya. Semua kolom diisi rapi, map ditata bershaf-shaf, materai ditempel lurus. Tapi soal janji yang tertulis di dalamnya? Ah, itu urusan belakangan. Seolah-olah kalau lembarannya sudah ditandatangani, tanggung jawab moralnya otomatis tuntas. Tinta kertas dianggap saksi sekaligus pelaku.

Padahal, ada satu pelajaran tak tertulis yang nggak pernah diajarkan di bangku sekolah atau kampus mana pun: aturan itu punya dua versi.

  1. Aturan yang tertulis di atas kertas.

  2. Aturan yang bisa "dinegosiasikan".

Dan lucunya, aturan versi kedua ini sakti tiada tara. Hari ini aturannya dilanggar sedikit gara-gara "kasihan". Besok dilanggar lagi gara-gara "keadaan lagi darurat". Lusa dilanggar lagi gara-gara "beliau kan sesepuh kita". Lama-lama, pengecualian yang diulang-ulang ini dianggap wajar. Yang bengkok malah dianggap lurus.

Kalau aturan sudah bisa ditawar-tawar kayak harga cabai di Pasar Tradisional, yang rusak itu bukan cuma tumpukan kertas arsipnya. Yang hancur itu kepercayaan.

Saya tidak sedang marah-marah, sungguh. Tidak juga nyindir siapapun. Kalau pejabat-pejabat tersinggung ya syukur. Pejabat pemerintah, pejabat bukan pemerintah serta pejabat apapun yang ada integritas-integritasnya, ya itulah. Tapi sekali lagi, saya tidak sedang marah. Saya cuma heran saja. Kalau seandainya selembar kertas Pakta Integritas itu punya mulut dan bisa ngomong, mungkin dia bakal menghela napas panjang lalu bilang:

"Mas, Mbak... aku ki diciptakan bukan cuma buat memenuhi lemari arsipmu atau dikopi sama mesin fotokopi sampai ribuan lembar. Aku iki ada buat ngingetin janjimu, terutama pas kamu lagi punya kesempatan emas buat melanggarnya."

Tapi ya sudahlah. Mungki suara kertas kalah nyaring dibanding bunyi mesin fotokopi yang terus mengepul di pojokan ruangan. Dokumennya makin tebal, mejanya makin penuh, tapi maknanya menguap begitu saja—mirip parfum murah yang wangi pas disemprot, tapi sedetik kemudian baunya hilang diterpa angin.

Integritas itu bukan soal segel, stempel, atau ketebalan map. Integritas itu cuma tentang satu hal sederhana: keberanian untuk tetap jujur dan taat aturan, bahkan ketika tidak ada satu orang pun yang melihat.

aerial view of city buildings during daytime

PDTI Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa: Shaping Future Leaders Through Technology and Tradition

Commitment to Excellence in Education

PDTI Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa stands as a beacon of academic excellence in Sulawesi Selatan, dedicated to nurturing the next generation of leaders and innovators. Our institution combines rigorous academic programs with cutting-edge technology to ensure students receive a comprehensive and contemporary education. We emphasize critical thinking, creativity, and practical skills that prepare students to excel in a dynamic global environment.

Integrating Tradition with Modern Innovation

Rooted in the rich cultural heritage of Makassari, PDTI Universitas Syekh Yusuf uniquely blends traditional values with modern technological advancements. This integration fosters a learning environment where respect for history meets the drive for innovation. Our programs are designed to encourage students to draw inspiration from their cultural roots while embracing new ideas and technologies that shape the future.

Empowering Community Through Collaboration and Research

At PDTI Universitas Syekh Yusuf, community engagement and collaborative research are at the heart of our mission. We partner with local industries, government agencies, and international organizations to provide students and faculty with opportunities to work on impactful projects. These collaborations not only enhance academic learning but also contribute to the socio-economic development of Gowa and beyond, positioning our institution as a hub for transformative change.

This trip was interesting because my sleeping arrangement didn’t workout. For a week I slept on a random dorm mattress and used my camera bag as a pillow.

PDTI Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa: Commitment to Sustainable Development and Global Engagement

Promoting Sustainable Development in Higher Education

PDTI Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa is dedicated to integrating sustainable development principles into its academic programs and campus initiatives. By fostering awareness and responsibility among students and staff, the institution aims to contribute to environmental preservation and social equity. This commitment is reflected in curriculum development, research projects, and community outreach activities that address local and global sustainability challenges.

Enhancing Global Engagement and Cultural Exchange

The university actively promotes international collaboration through partnerships with institutions worldwide, encouraging student and faculty exchanges, joint research, and cross-cultural learning experiences. These efforts prepare graduates to thrive in a globalized world, equipped with multicultural competencies and a broadened perspective. PDTI Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa values diversity and inclusion as key drivers of innovation and academic excellence.

Leveraging Technology for Enhanced Learning and Research

Embracing cutting-edge technology, PDTI Universitas Syekh Yusuf Al Makassari Gowa provides students and researchers with advanced tools and platforms to enhance learning outcomes and research productivity. From virtual labs to digital libraries and online collaboration systems, the institution ensures accessibility and flexibility in education. This technological foundation supports the university's mission to deliver quality education that meets the evolving demands of the 21st century.