Media Sosial untuk Akademisi: Antara Branding dan Keaslian

05/24/2026Muhammad Zaid Syahid
Clubhouse audio chat - New social media platform and other social media Instagram, Facebook, Youtube, Twitter, Pinterest

Saya punya beberapa akun media sosial yang aktif — Instagram, LinkedIn, X, YouTube, dan beberapa lainnya. Dan pertanyaan yang kadang muncul dari rekan sejawat adalah: "Untuk apa? Buang-buang waktu saja."
Saya mengerti skeptisisme itu. Dan sampai batas tertentu, ada benarnya.
Media sosial bisa menjadi lubang waktu yang menyedot produktivitas. Tapi ia juga bisa menjadi ruang di mana ide-ide akademik yang biasanya terkurung di jurnal berbayar bisa sampai ke orang yang lebih luas.
Yang paling saya hargai dari media sosial bukan jumlah followers. Tapi koneksi tak terduga — peneliti dari kota lain yang ternyata mengerjakan topik serupa, praktisi yang butuh insight akademis, atau mahasiswa dari universitas berbeda yang menemukan perspektif baru dari postingan yang saya anggap sepele.
Kuncinya, menurut saya, adalah konsistensi yang realistis, bukan intensitas yang tidak berkelanjutan. Lebih baik posting sesuatu yang bermakna dua kali seminggu daripada posting setiap hari selama dua minggu lalu menghilang tiga bulan.
Dan yang lebih penting: posting karena kamu punya sesuatu yang ingin dibagikan, bukan karena kamu merasa harus selalu ada di platform.
Keaslian itu dirasakan. Dan di dunia yang penuh konten, keaslian adalah satu-satunya diferensiasi yang tidak bisa direplikasi.