Makassar, dan Mengapa Saya Tidak Pernah Berpikir untuk Pergi
Pertanyaan ini kadang datang dengan nada tertentu: "Tidak mau cari peluang di kota yang lebih besar?" Saya mengerti konteksnya. Dalam banyak narasi tentang karier akademik dan profesional, ada asumsi bahwa untuk berkembang, orang perlu pergi — ke Jakarta, ke luar Jawa, atau ke luar negeri. Saya tidak sepakat dengan premis itu. Atau setidaknya, saya tidak percaya itu berlaku universal. Makassar adalah kota yang sedang tumbuh dengan cara yang menarik. Komunitasnya dinamis. Universitasnya punya sejarah panjang dan sedang mengalami transformasi. Jejaring profesionalnya lebih kuat dari yang dibayangkan dari luar. Dan yang tidak kalah penting — saya punya konteks di sini. Saya tahu lanskap sosial dan akademiknya. Saya punya hubungan yang sudah terbangun bertahun-tahun. Kelebihan itu tidak datang gratis kalau saya mulai dari nol di tempat baru. Tentu ada keterbatasan. Akses ke konferensi internasional tidak semudah di kota-kota tertentu. Beberapa sumber daya akademik lebih sulit dijangkau. Tapi keterbatasan itu mendorong kreativitas — dan internet sudah menghapus banyak dari itu. Kontribusi paling bermakna yang bisa saya berikan mungkin bukan di tempat yang paling terkenal, tapi di tempat di mana kehadiran saya paling terasa. Dan untuk sekarang, itu masih di sini — di kelas, di kantor, dan di kafe-kafe di Makassar yang sudah hafal pesanan saya.
Lanjutkan membaca